Selasa, 28 Januari 2014

Suri [1]

Suri kecil tersentak. Rasanya ia baru saja berbaring, menikmati tidur siangnya di atas tempat tidur seorang tuan putri; tentu cantik, mahal, dan terbuat dari ribuan busa berkualitas paling tinggi. Suri memang tak pernah kekurangan. Siapa yang berani membuat Suri menderita? Satu-satunya anak manis dalam keluarga Tuan Pejabat Royals, yang korupsinya jadi kejahatan paling sempurna sepanjang dekade.

Suri tersentak sebab ia terbangun di tempat lain, atau bisa jadi masa yang lain. Suri tak bangun di atas tempat tidur seorang tuan putri. Suri terbangun di atas genting.

Suri menepuk tangan di muka wajahnya. Memastikan apakah ia sedang bermimpi. “Bukan mimpi, Suri benar sudah bangun tidur,” gumamnya sambil melinangkan air mata. “Mamaaaang!” serunya mulai panik. Tentu Mamang tak menjawab. Tak ada pembantu paling setia bersama Suri. Mamang sedang di istana, bukan bersama Suri yang baru terbangun di atas genting. Suri hanya sendiri di atas genting. Hanya ada genting dan... lautan. Dan Suri.

Suri semakin panik. Suri tak bisa berenang. Suri tak boleh sering berenang oleh Ibu Royals. “Kulitmu tak boleh kena kaporit, Sayang.” Kata Ibu Royals. Apalagi untuk berenang di laut, maka Ayah Royals juga ikut nyinyir, “Suri jangan dekat laut, air laut itu karsinogen. Suri tahu karsinogen? Nanti Suri bisa kena kanker kalau main di air laut. Laut itu tong sampah Ayah. Ke mana lagi Ayah buang limbah pabrik kita? Masak anak Ayah mau berenang di tong sampah?” Itulah yang lebih sedih untuk hidup Suri, karena air laut kini jadi karsinogen, Suri kecil bahkan tak bisa membangun istana dari pasir pantai. Suri memang punya istana yang sebenarnya. Istana Royals.

Sebab tak bisa berenang, Suri hanya diam. Suri masih bisa menggunakan kedua mata bulatnya, melihat-lihat sampai ujung yang dapat dijangkaunya. Suri tak yakin ini lautan, karena ia di atas genting. Mana ada genting mengapung dengan sangat tenang di atas permukaan laut? Kecuali genting ini memang atap sebuah rumah. Kecuali lautan ini adalah air bah.

*bersambung

Senin, 09 Desember 2013

Sistem

Desember.
Aku baru kembali dari Gunung Arjuno. Semalaman kuhabiskan di ketinggian sekian. Tak kucatat, tapi kuingat betul dinginnya pegunungan. Menyakitkan.
Namun begitu hangat ketika pagi mekar.
***

Tapi ada soal lain yang ingin kubincangkan, selain soal kembali ke Surabaya, soal kembali pada suhu bermodus 26 derajat Cecius dalam beberapa minggu terakhir. Ini soal sistem, dan pergumulan dengan idealismeku (yang) sendiri(an).

Aku seringkali tak sepaham dengan suatu sistem. Termasuk sistem pendidikan di Indonesia. Tapi tak akan kubahas banyak-banyak. Kata Andi Hakim Nasution, “Kalau Anda punya musuh besar dan ingin ia tersiksa di dunia, doakanlah dia menjadi Menteri Pendidikan.” Seperti begitu menyiksa, ya? Tuhan, kuatkanlah Menteri Pendidikan kami, Amin.

Meski seringkali tak sepaham dengan sistem, aku tak pernah berontak. Aku diam. Beku di belakang. Dan ini berulang dalam beberapa tahun belakangan. Masalahku, ini seringkali mengganggu. Bagaimana rasanya kau tak bisa memuntahkan isi perutmu? Padahal kau mual sekali, muak sekali.

Aku punya sejuta alasan untuk diam. Karena pernah bicara dan tentu kalah. Karena (rasanya) tak akan ada yang sepaham. Karena aku takut tersisih sendirian. Karena aku tak mau memperpanjang persoalan. Karena aku tak mau buat perkara. Karena bla bla bla. Hingga karena aku pikir, barangkali pendapatku hanya berlaku untukku, bukan untuk yang lain. Maka kalau aku bicara, aku egois. Apalagi jika berontak, maka aku dua kali lipat lebih egois. Jadi, kalau tidak diam, aku hanya mundur dan hilang.

Sejak sering diam, aku tak bisa lagi menemukan perumpaan untuk diriku sendiri. Aku, bertahun-tahun, berdiri di atas sistem yang tak kuhendaki. Aku belum bisa jadi pemberani. Aku bahkan tak bisa bercerita banyak di sini. Semoga Gendis nanti jadi pemberani, ya! Amin.

Kamis, 28 November 2013

Sebenar-benarnya acak.

Hari ini diacak saja.
Toh tidak akan jadi masalah bagi Nusantara. Meski sedang bergemuruh konflik dokter dengan entah siapa di luar sana. 

Baiklah, tak tahan untuk melewatkan cerita. Sebenarnya, aku sedang menolak mengikuti perkara satu ini; dokter berdemo.
Baru kali ini aku lihat dokter seperti ini.
Beberapa hari lalu, Disa bercerita, soal dokter Ayu. Selama ini, melalui Disa aku lihat sedikit pedihnya menjadi seorang dokter. Kalau tak selamat, dokter bersalah. Kalau selamat, maka THANKS GOD! Meski hidup-mati dan segalanya memang ada di jemari Tuhan. Tapi ada yang bikin sebal, coba saja kalau kau lihat ucapan seorang calon dokter, "Bagaimana satu hari tanpa dokternya?" Dipikirnya untuk apa sumpah dokternya kelak, yang akan bergema dari mulutnya sendiri. Bagiku, dokter adalah pekerjaan yang pasti mulia, dengan nurani, bukan dengan dendam.
Aku menolak mengikuti perkara satu ini. Aku diam saja. Diam-diam juga harus berdoa, agar dokter tak sampai bermusuhan dengan masyarakat, and vice versa. Ah, ampuni kami.
***

Minggu ini aku dapat kabar duka, dari kawan SMP. Ia sakit, dan pulang ke rumah Tuhan.
Sudah tiga kawan SMP yang pamit duluan. Maka sesekali aku bertanya, dan harus menjawab sendiri apa yang kutanyakan.

Hidup ini sampai kapan? Tak ada yang tahu akan sepanjang apa nafasmu di bumi. Kalau kata orang Jawa, urip nang dunyo mung mampir ngombe, bahwa hidup di dunia ini hanya untuk mampir minum. Benar juga. Dan soal apakah hidup harus meninggalkan bekas, itu pilihan, pilihan ganda.
Ada bekas baik, juga ada yang tak baik. Sering aku mau menggaris yang baik, tapi rasanya belum bisa. Belum rampung. Memang hidupku belum tentu rampung malam ini.
Soal bekas baik, mungkin kucing akan bertanya, "Mau sebaik apa, Mbak Setya?"
Barangkali bisa kujawab, "Sebaik aku tak lagi membenci engkau dan kaummu, Cing." Haha. 
*Aku baru mengubah sudut pandang soal kucing, yang mungkin suatu hari saja kuceritakan.*
***

Halo, masih terjaga?
Aku benar-benar acak. Acak sampai urutan cerita. Maka cukup saja bagian ini, ya?
Kalau Gendis nanti baca, intinya hanya; aku menulis untuk Gendis dan perkara-perkaranya. Perkara sebelum Gendis dan berjuta Gendis lainnya mampu membaca. Untuk Gendis, menggaris bekas adalah menulis.

Senin, 04 November 2013

Kau pasti akan berjumpa mentari.

Kawanku sedang patah hati. Maka aku pun mau mengakui soal aku pernah patah hati.
***

Hampir setahun. Setelah lebih dari dua tahun yang terasa singkat.
Kau pasti bingung apa yang kubicarakan pada kalimat pertama dan kedua.
Begini;

Di Juli 2010, aku tenggelam pada pria sederhana, yang biasanya lakukan apa saja supaya aku tertawa. Bahkan terbahak-bahak. Seringkali terbahak-bahak, sampai banjir air mata. Bagaimana bisa tak suka? Tentu sulit. Maka meski harus menyambung-nyambung rindu dari Surabaya hingga Jakarta, status berpacaran tetap ingin digenggam, erat-erat.

Kalau kau pernah tahu rasanya jatuh cinta, mungkin tidak sulit memahami bahwa aku tenggelam. Begitu saja tenggelam. Setiap hari, meski terpisah sekitar delapan ratus kilometer, rasanya berwarna. Apalagi kalau ada kesempatan bertemu, dunia sejuta kali lebih berwarna! Tapi yang indah tak selalu lama-lama. Begitu juga kata Ibu, bahwa yang indah tak selalu lama-lama, karena di setiap senang, ada sedih yang ikut antri. Sederhana saja; aku kehujanan di November 2012. Kehujanan air mata.

Desember 2012, aku kena kemarau. Kering, tidak bisa lagi berlinang air mata. Tepatnya, tidak boleh lagi. Aku belajar lupa. Lupa bahwa ada perbincangan di telepon setiap pagi. Lupa bahwa sebelumnya, tawaku hanya bergantung pada pria-sederhana-yang-biasanya-lakukan-apa-saja-supaya-aku-tertawa itu. Lupa bahwa hampir seribu hari sebelumnya aku menimbun terlalu banyak senang, menyimpannya dalam-dalam, mengharapkannya dalam-dalam.

Masih di Desember 2012, aku kebanjiran lagi. Ada yang kulupa. Aku lupa berterima kasih pada Tuhan. Aku lupa bahwa aku teramat sombong. Hampir seribu hari terakhir dari Desember 2012, aku lupa bertemu Tuhan di setiap pagi, siang, juga malam. Maka sejak hari yang juga kulupa itu, aku kembali pada Tuhan, merindukanNya di setiap pagi sampai malam. Bertanya kepadaNya bagaimana kembali ke titik nol. Bercerita kepadaNya bagaimana sakitnya kembali ke titik nol. 

Seketika berubah. Seketika semua berubah. Hujan dan kemarau kemudian hilang. Hilang pelan-pelan mulai Desember 2012. Aku kembali pada Tuhan. Kembali pada keluarga dan teman-teman. Aku ubah gaya rambut, aku ubah gaya berpakaian, aku ubah hampir segalanya! Aku mulai diet; hilangkan empat kilogram, tiga kilogram,  dan seterusnya. Aku belajar makan sayuran, yang sebelumnya tak bisa kulakukan. Aku berolahraga. Berlari, yoga, dan lainnya. Aku tinggalkan yang tak sehat, pelan-pelan.

Halo, November. Tak mudah menjalani setahun ini. Setahun untuk bertemu November kembali. Aku kehilangan kakek di Maret 2013, beliau menyusul nenek ke rumah Tuhan. Aku bersenang-senang di Bandung pada Juli 2013. Aku berlari lebih giat mulai September 2013. Kadang aku berlebihan soal pencapaian berolahraga; karena pesona Maggie Greene di The Walking Dead dan Katniss Everdeen di The Hunger Games. Aku resmi menjadi dua puluh satu tahun di Oktober 2013. Aku jadi menikmati segalanya. Aku tak lagi belajar lupa. Kadang aku rapikan ingatan, kupelajari baik-baik. Kalau tiba waktunya, aku akan diuji kembali, maka aku tak seharusnya lupa pelajaran sebelumnya.
***

Your broken heart isn't that bad. Kau pasti akan lalui badai. Kau juga pasti berjumpa mentari. Tenanglah, tetap bersama Tuhan, dan atom-atom positifnya. Belajarlah.




Jangan lupa senyum, ya.
Kau juga akan berjumpa mentari.

dalam rindu kepada Bandung

Halo, November.
Menjadikan perkara Gendis sebagai buku harian adalah tidak mudah. Menulis setiap pikiran juga tidak mudah. Tapi sesekali, bercerita itu perlu.

Banyak yang terlewat. Soal penembakan polisi, dinasti politik, televisi sampah, sampai negeri ini kehabisan buku nikah (atau surat nikah, entahlah).
Ada yang belum terlewat; rindu.

Aku merindukan Bandung sejak beberapa minggu lalu. Merindu sampai menusuk-nusuk, ke memori paling dalam. Soal bagaimana hujan turun di Tikukur, bagaimana Lembang terlihat begitu jauh. Kabut, layang-layang, langit gerimis, dan senja kemerahan. Bandung tak pernah tak indah kala itu.

Nah, sewaktu tinggal di Tikukur, aku biasa menikmati sore di ujung dapur. Di sudut itu aku bisa lihat Lembang, di bawah langit senja dengan layang-layang. Sesekali gerimis merintik, kadang juga hujan begitu deras. Usai itu, kalau langit belum gelap, maka mentari seperti membelah, meminta jalan untuknya bersinar lagi. Kadang diijinkan, kadang juga tidak.

Aku juga rindu berjalan kaki. Untuk mengobatinya, mudah saja; berjalan kaki dengan rute kos-kampus-kos. Tapi berbeda. Tak ada gerimis, tak ada hujan deras. Terik dan menyengat. Tidak sejuk sama sekali. Tentu begini Surabaya. Tapi kemudian aku bertanya; aku rindu Bandung atau hujannya?




Surabaya, 4 November 2013
dalam rindu kepada Bandung.

Minggu, 08 September 2013

Jatuh cinta seperti mulai berenang saja.
Sekali kau coba, bersiaplah.
Dua kali kau coba, belajarlah.
Tiga kali kau coba, belajarlah.
Sejuta kali kau coba, kalau tak jadi perenang andal, kau tamat tenggelam.


Minggu, 01 September 2013

soal Semesta

Semesta punya anak. Punya banyak. Satunya, malam.
Malam seringkali menguntit. Sampai pagi pernah marah.

Kau tahu mengapa?


Karena malam telah membuat pagi dibenci.
Malam adalah kanvas dimana mimpi-mimpi dilukis.
Dan pagi adalah kereta yang melontarkan orang ke dunia nyata.
Siapa yang tak benci realita?


Aku kenal bumi. Satu anak semesta lagi.
Katanya bumi tak benci realita. Bumi mengikuti bentuk.
Ditumpangi pagi dan malam, dan senja emas kadang-kadang.
Kadang bumi dipeluk api, merah sekali, merah sampai menyisa abu-abu.
Kadang lagi bumi diguyur lautan.
Tapi bumi bisu. Realitanya tak pernah hangat.
Ia tak benci realita, ya tidak?


Entah karena ia memang tak benci, atau karena sudah terlanjur muak.
Dua perasaan yang digariskan untuk saling menyerupai. Mirip.
Mengingatkanku pada planet dan bintang.
Bermiliar anak semesta lainnya,
yang masing-masing menyimpan rahasia.
Kadang aku bertanya-tanya,
rahasia apa yang tersembunyi di balik pijaran bola apinya.


Benar juga katamu. Bumi mungkin muak.
Lelah dia membisu, dan hanya mungkin berputar.
Hanya berputar, tidak pernah lebih.
Bola api. Pernah kau lihat?
Aku hendak ceritakan kepadamu, rahasia semesta yang kutahu, 
yang pada suatu siang, semesta membisik di Pulau Jawa. 


Ah, aku jadi bergidik membayangkannya;
hanya dengan berputar, ia telah menghidupi ratusan triliun makhluk hidup.
Kurasa kita tak pernah tahu,
apa akibat dari satu gerak kecil yg kita lakukan, ya?
Tentu, bola api itulah yang menyapamu tiap malam 
saat kau menoleh ke luar jendelamu.
Mungkin ia juga yang membisikkan rahasia itu padamu.
Bagikanlah padaku, rahasia itu.


Tanyamu pernah kutuliskan. Sejak kudapati yang kupikir rahasia itu, sejak semesta membisik di Pulau Jawa, aku menuliskan surat untuk kesayanganku. Untuk anak bumi berikutnya, untuk keturunanku, keturunanmu, juga anjing dan cempaka.
Kata Pramoedya, tiap-tiap manusia berasal dari satu keturunan, maka antara satu dan lainnya adalah saudara. Pun dengan anjing dan cempaka, aku bersaudara.
Maka suratku boleh kau baca, tak cuma buat Gendisku, begini ceritanya...






bersama Disa Saraswati;
Surabaya, 1 September 2013