Hari ini diacak saja.
Toh tidak akan jadi masalah bagi Nusantara. Meski sedang bergemuruh konflik dokter dengan entah siapa di luar sana.
Baiklah, tak tahan untuk melewatkan cerita. Sebenarnya, aku sedang menolak mengikuti perkara satu ini; dokter berdemo.
Baru kali ini aku lihat dokter seperti ini.
Beberapa hari lalu, Disa bercerita, soal dokter Ayu. Selama ini, melalui Disa aku lihat sedikit pedihnya menjadi seorang dokter. Kalau tak selamat, dokter bersalah. Kalau selamat, maka THANKS GOD! Meski hidup-mati dan segalanya memang ada di jemari Tuhan. Tapi ada yang bikin sebal, coba saja kalau kau lihat ucapan seorang calon dokter, "Bagaimana satu hari tanpa dokternya?" Dipikirnya untuk apa sumpah dokternya kelak, yang akan bergema dari mulutnya sendiri. Bagiku, dokter adalah pekerjaan yang pasti mulia, dengan nurani, bukan dengan dendam.
Aku menolak mengikuti perkara satu ini. Aku diam saja. Diam-diam juga harus berdoa, agar dokter tak sampai bermusuhan dengan masyarakat, and vice versa. Ah, ampuni kami.
***
Minggu ini aku dapat kabar duka, dari kawan SMP. Ia sakit, dan pulang ke rumah Tuhan.
Sudah tiga kawan SMP yang pamit duluan. Maka sesekali aku bertanya, dan harus menjawab sendiri apa yang kutanyakan.
Hidup ini sampai kapan? Tak ada yang tahu akan sepanjang apa nafasmu di bumi. Kalau kata orang Jawa, urip nang dunyo mung mampir ngombe, bahwa hidup di dunia ini hanya untuk mampir minum. Benar juga. Dan soal apakah hidup harus meninggalkan bekas, itu pilihan, pilihan ganda.
Ada bekas baik, juga ada yang tak baik. Sering aku mau menggaris yang baik, tapi rasanya belum bisa. Belum rampung. Memang hidupku belum tentu rampung malam ini.
Soal bekas baik, mungkin kucing akan bertanya, "Mau sebaik apa, Mbak Setya?"
Barangkali bisa kujawab, "Sebaik aku tak lagi membenci engkau dan kaummu, Cing." Haha.
*Aku baru mengubah sudut pandang soal kucing, yang mungkin suatu hari saja kuceritakan.*
***
Halo, masih terjaga?
Aku benar-benar acak. Acak sampai urutan cerita. Maka cukup saja bagian ini, ya?
Kalau Gendis nanti baca, intinya hanya; aku menulis untuk Gendis dan perkara-perkaranya. Perkara sebelum Gendis dan berjuta Gendis lainnya mampu membaca. Untuk Gendis, menggaris bekas adalah menulis.
Kamis, 28 November 2013
Senin, 04 November 2013
Kau pasti akan berjumpa mentari.
Kawanku sedang patah hati. Maka aku pun mau mengakui soal aku pernah patah hati.
Hampir setahun. Setelah lebih dari dua tahun yang terasa singkat.
Kau pasti bingung apa yang kubicarakan pada kalimat pertama dan kedua.
Begini;
Di Juli 2010, aku tenggelam pada pria sederhana, yang biasanya lakukan apa saja supaya aku tertawa. Bahkan terbahak-bahak. Seringkali terbahak-bahak, sampai banjir air mata. Bagaimana bisa tak suka? Tentu sulit. Maka meski harus menyambung-nyambung rindu dari Surabaya hingga Jakarta, status berpacaran tetap ingin digenggam, erat-erat.
Kalau kau pernah tahu rasanya jatuh cinta, mungkin tidak sulit memahami bahwa aku tenggelam. Begitu saja tenggelam. Setiap hari, meski terpisah sekitar delapan ratus kilometer, rasanya berwarna. Apalagi kalau ada kesempatan bertemu, dunia sejuta kali lebih berwarna! Tapi yang indah tak selalu lama-lama. Begitu juga kata Ibu, bahwa yang indah tak selalu lama-lama, karena di setiap senang, ada sedih yang ikut antri. Sederhana saja; aku kehujanan di November 2012. Kehujanan air mata.
Desember 2012, aku kena kemarau. Kering, tidak bisa lagi berlinang air mata. Tepatnya, tidak boleh lagi. Aku belajar lupa. Lupa bahwa ada perbincangan di telepon setiap pagi. Lupa bahwa sebelumnya, tawaku hanya bergantung pada pria-sederhana-yang-biasanya-lakukan-apa-saja-supaya-aku-tertawa itu. Lupa bahwa hampir seribu hari sebelumnya aku menimbun terlalu banyak senang, menyimpannya dalam-dalam, mengharapkannya dalam-dalam.
Masih di Desember 2012, aku kebanjiran lagi. Ada yang kulupa. Aku lupa berterima kasih pada Tuhan. Aku lupa bahwa aku teramat sombong. Hampir seribu hari terakhir dari Desember 2012, aku lupa bertemu Tuhan di setiap pagi, siang, juga malam. Maka sejak hari yang juga kulupa itu, aku kembali pada Tuhan, merindukanNya di setiap pagi sampai malam. Bertanya kepadaNya bagaimana kembali ke titik nol. Bercerita kepadaNya bagaimana sakitnya kembali ke titik nol.
Seketika berubah. Seketika semua berubah. Hujan dan kemarau kemudian hilang. Hilang pelan-pelan mulai Desember 2012. Aku kembali pada Tuhan. Kembali pada keluarga dan teman-teman. Aku ubah gaya rambut, aku ubah gaya berpakaian, aku ubah hampir segalanya! Aku mulai diet; hilangkan empat kilogram, tiga kilogram, dan seterusnya. Aku belajar makan sayuran, yang sebelumnya tak bisa kulakukan. Aku berolahraga. Berlari, yoga, dan lainnya. Aku tinggalkan yang tak sehat, pelan-pelan.
Halo, November. Tak mudah menjalani setahun ini. Setahun untuk bertemu November kembali. Aku kehilangan kakek di Maret 2013, beliau menyusul nenek ke rumah Tuhan. Aku bersenang-senang di Bandung pada Juli 2013. Aku berlari lebih giat mulai September 2013. Kadang aku berlebihan soal pencapaian berolahraga; karena pesona Maggie Greene di The Walking Dead dan Katniss Everdeen di The Hunger Games. Aku resmi menjadi dua puluh satu tahun di Oktober 2013. Aku jadi menikmati segalanya. Aku tak lagi belajar lupa. Kadang aku rapikan ingatan, kupelajari baik-baik. Kalau tiba waktunya, aku akan diuji kembali, maka aku tak seharusnya lupa pelajaran sebelumnya.
Your broken heart isn't that bad. Kau pasti akan lalui badai. Kau juga pasti berjumpa mentari. Tenanglah, tetap bersama Tuhan, dan atom-atom positifnya. Belajarlah.
***
Hampir setahun. Setelah lebih dari dua tahun yang terasa singkat.
Kau pasti bingung apa yang kubicarakan pada kalimat pertama dan kedua.
Begini;
Di Juli 2010, aku tenggelam pada pria sederhana, yang biasanya lakukan apa saja supaya aku tertawa. Bahkan terbahak-bahak. Seringkali terbahak-bahak, sampai banjir air mata. Bagaimana bisa tak suka? Tentu sulit. Maka meski harus menyambung-nyambung rindu dari Surabaya hingga Jakarta, status berpacaran tetap ingin digenggam, erat-erat.
Kalau kau pernah tahu rasanya jatuh cinta, mungkin tidak sulit memahami bahwa aku tenggelam. Begitu saja tenggelam. Setiap hari, meski terpisah sekitar delapan ratus kilometer, rasanya berwarna. Apalagi kalau ada kesempatan bertemu, dunia sejuta kali lebih berwarna! Tapi yang indah tak selalu lama-lama. Begitu juga kata Ibu, bahwa yang indah tak selalu lama-lama, karena di setiap senang, ada sedih yang ikut antri. Sederhana saja; aku kehujanan di November 2012. Kehujanan air mata.
Desember 2012, aku kena kemarau. Kering, tidak bisa lagi berlinang air mata. Tepatnya, tidak boleh lagi. Aku belajar lupa. Lupa bahwa ada perbincangan di telepon setiap pagi. Lupa bahwa sebelumnya, tawaku hanya bergantung pada pria-sederhana-yang-biasanya-lakukan-apa-saja-supaya-aku-tertawa itu. Lupa bahwa hampir seribu hari sebelumnya aku menimbun terlalu banyak senang, menyimpannya dalam-dalam, mengharapkannya dalam-dalam.
Masih di Desember 2012, aku kebanjiran lagi. Ada yang kulupa. Aku lupa berterima kasih pada Tuhan. Aku lupa bahwa aku teramat sombong. Hampir seribu hari terakhir dari Desember 2012, aku lupa bertemu Tuhan di setiap pagi, siang, juga malam. Maka sejak hari yang juga kulupa itu, aku kembali pada Tuhan, merindukanNya di setiap pagi sampai malam. Bertanya kepadaNya bagaimana kembali ke titik nol. Bercerita kepadaNya bagaimana sakitnya kembali ke titik nol.
Seketika berubah. Seketika semua berubah. Hujan dan kemarau kemudian hilang. Hilang pelan-pelan mulai Desember 2012. Aku kembali pada Tuhan. Kembali pada keluarga dan teman-teman. Aku ubah gaya rambut, aku ubah gaya berpakaian, aku ubah hampir segalanya! Aku mulai diet; hilangkan empat kilogram, tiga kilogram, dan seterusnya. Aku belajar makan sayuran, yang sebelumnya tak bisa kulakukan. Aku berolahraga. Berlari, yoga, dan lainnya. Aku tinggalkan yang tak sehat, pelan-pelan.
Halo, November. Tak mudah menjalani setahun ini. Setahun untuk bertemu November kembali. Aku kehilangan kakek di Maret 2013, beliau menyusul nenek ke rumah Tuhan. Aku bersenang-senang di Bandung pada Juli 2013. Aku berlari lebih giat mulai September 2013. Kadang aku berlebihan soal pencapaian berolahraga; karena pesona Maggie Greene di The Walking Dead dan Katniss Everdeen di The Hunger Games. Aku resmi menjadi dua puluh satu tahun di Oktober 2013. Aku jadi menikmati segalanya. Aku tak lagi belajar lupa. Kadang aku rapikan ingatan, kupelajari baik-baik. Kalau tiba waktunya, aku akan diuji kembali, maka aku tak seharusnya lupa pelajaran sebelumnya.
***
Your broken heart isn't that bad. Kau pasti akan lalui badai. Kau juga pasti berjumpa mentari. Tenanglah, tetap bersama Tuhan, dan atom-atom positifnya. Belajarlah.
Jangan lupa senyum, ya.
Kau juga akan berjumpa mentari.
Label:
perkara
Lokasi:
Surabaya, East Java, Indonesia
dalam rindu kepada Bandung
Halo, November.
Menjadikan perkara Gendis sebagai buku harian adalah tidak mudah. Menulis setiap pikiran juga tidak mudah. Tapi sesekali, bercerita itu perlu.
Banyak yang terlewat. Soal penembakan polisi, dinasti politik, televisi sampah, sampai negeri ini kehabisan buku nikah (atau surat nikah, entahlah).
Ada yang belum terlewat; rindu.
Aku merindukan Bandung sejak beberapa minggu lalu. Merindu sampai menusuk-nusuk, ke memori paling dalam. Soal bagaimana hujan turun di Tikukur, bagaimana Lembang terlihat begitu jauh. Kabut, layang-layang, langit gerimis, dan senja kemerahan. Bandung tak pernah tak indah kala itu.
Nah, sewaktu tinggal di Tikukur, aku biasa menikmati sore di ujung dapur. Di sudut itu aku bisa lihat Lembang, di bawah langit senja dengan layang-layang. Sesekali gerimis merintik, kadang juga hujan begitu deras. Usai itu, kalau langit belum gelap, maka mentari seperti membelah, meminta jalan untuknya bersinar lagi. Kadang diijinkan, kadang juga tidak.
Aku juga rindu berjalan kaki. Untuk mengobatinya, mudah saja; berjalan kaki dengan rute kos-kampus-kos. Tapi berbeda. Tak ada gerimis, tak ada hujan deras. Terik dan menyengat. Tidak sejuk sama sekali. Tentu begini Surabaya. Tapi kemudian aku bertanya; aku rindu Bandung atau hujannya?
Menjadikan perkara Gendis sebagai buku harian adalah tidak mudah. Menulis setiap pikiran juga tidak mudah. Tapi sesekali, bercerita itu perlu.
Banyak yang terlewat. Soal penembakan polisi, dinasti politik, televisi sampah, sampai negeri ini kehabisan buku nikah (atau surat nikah, entahlah).
Ada yang belum terlewat; rindu.
Aku merindukan Bandung sejak beberapa minggu lalu. Merindu sampai menusuk-nusuk, ke memori paling dalam. Soal bagaimana hujan turun di Tikukur, bagaimana Lembang terlihat begitu jauh. Kabut, layang-layang, langit gerimis, dan senja kemerahan. Bandung tak pernah tak indah kala itu.
Nah, sewaktu tinggal di Tikukur, aku biasa menikmati sore di ujung dapur. Di sudut itu aku bisa lihat Lembang, di bawah langit senja dengan layang-layang. Sesekali gerimis merintik, kadang juga hujan begitu deras. Usai itu, kalau langit belum gelap, maka mentari seperti membelah, meminta jalan untuknya bersinar lagi. Kadang diijinkan, kadang juga tidak.
Aku juga rindu berjalan kaki. Untuk mengobatinya, mudah saja; berjalan kaki dengan rute kos-kampus-kos. Tapi berbeda. Tak ada gerimis, tak ada hujan deras. Terik dan menyengat. Tidak sejuk sama sekali. Tentu begini Surabaya. Tapi kemudian aku bertanya; aku rindu Bandung atau hujannya?
Surabaya, 4 November 2013
dalam rindu kepada Bandung.
Label:
perkara
Lokasi:
Surabaya, East Java, Indonesia
Minggu, 08 September 2013
Minggu, 01 September 2013
soal Semesta
Semesta
punya anak. Punya banyak. Satunya, malam.
Malam
seringkali menguntit. Sampai pagi pernah marah.
Kau
tahu mengapa?
Karena malam telah
membuat pagi dibenci.
Malam adalah kanvas
dimana mimpi-mimpi dilukis.
Dan pagi adalah kereta
yang melontarkan orang ke dunia nyata.
Siapa yang tak benci
realita?
Aku
kenal bumi. Satu anak semesta lagi.
Katanya
bumi tak benci realita. Bumi mengikuti bentuk.
Ditumpangi
pagi dan malam, dan senja emas kadang-kadang.
Kadang
bumi dipeluk api, merah sekali, merah sampai menyisa abu-abu.
Kadang
lagi bumi diguyur lautan.
Tapi
bumi bisu. Realitanya tak pernah hangat.
Ia tak benci realita, ya
tidak?
Entah karena ia memang
tak benci, atau karena sudah terlanjur muak.
Dua perasaan yang
digariskan untuk saling menyerupai. Mirip.
Mengingatkanku pada
planet dan bintang.
Bermiliar anak semesta
lainnya,
yang masing-masing
menyimpan rahasia.
Kadang aku
bertanya-tanya,
rahasia apa yang
tersembunyi di balik pijaran bola apinya.
Benar
juga katamu. Bumi mungkin muak.
Lelah
dia membisu, dan hanya mungkin berputar.
Hanya
berputar, tidak pernah lebih.
Bola
api. Pernah kau lihat?
Aku
hendak ceritakan kepadamu, rahasia semesta yang kutahu,
yang
pada suatu siang, semesta membisik di Pulau Jawa.
Ah, aku jadi bergidik
membayangkannya;
hanya dengan berputar,
ia telah menghidupi ratusan triliun makhluk hidup.
Kurasa kita tak pernah
tahu,
apa akibat dari satu
gerak kecil yg kita lakukan, ya?
Tentu, bola api itulah
yang menyapamu tiap malam
saat kau menoleh ke
luar jendelamu.
Mungkin ia juga yang
membisikkan rahasia itu padamu.
Bagikanlah padaku,
rahasia itu.
Tanyamu
pernah kutuliskan. Sejak kudapati yang kupikir rahasia itu, sejak semesta
membisik di Pulau Jawa, aku menuliskan surat untuk kesayanganku. Untuk anak
bumi berikutnya, untuk keturunanku, keturunanmu, juga anjing dan cempaka.
Kata
Pramoedya, tiap-tiap manusia berasal dari satu keturunan, maka antara satu dan
lainnya adalah saudara. Pun dengan anjing dan cempaka, aku bersaudara.
Maka
suratku boleh kau baca, tak cuma buat Gendisku, begini ceritanya...
bersama Disa Saraswati;
Surabaya, 1 September
2013
Minggu, 25 Agustus 2013
Aku tak melahirkan ranting dan dedaunan,
tanpa alasan.
"Tahu kau yang habiskan air mataku?"
tanpa alasan.
"Tahu kau yang habiskan air mataku?"
"Tentu."
Kau lelah, ya? Kau seringkali lelah. Kau tak berhenti.
Bulan selalu menyaksi, bahwa kau terus berputar.
Tetap berputar, meski mentari sembunyi, meski laut surut.
Aku tak paham rasanya jadi engkau.
Aku hanya tahu kau lelah.
Kau lelah menangis, ya? Kadang kau terbakar. Lalu harus padam dengan air matamu pula.
Aku tak bisa mengutuk, karena seringkali aku menjadi sama.
Bisakah kau memaafkanku?
Denpasar, 25 Agustus 2013
Label:
daya pikir
Lokasi:
Denpasar, Bali, Indonesia
Sabtu, 24 Agustus 2013
Isn't all in the past, little sister? And what's in the past can never be repeated.
- Pramoedya Ananta Toer in It's Not An All Night Fair
Langganan:
Postingan (Atom)